Tuesday, January 31, 2006

2006

2006 sudah hampir lewat 1 bulan. Sudah lama nggak nulis...
Di sela-sela ngedit foto tiba-tiba malah ngebuka blog :)

Nikon D200 sudah mulai banyak yang pakai. Yang waiting list juga masih banyak. Walau sudah lama di dunia fotografi, saya masih sering bingung kenapa barang baru suka lama datangnya dan kalau datang jumlahnya terbatas.
Secara marketing mungkin biar orang tetap penasaran. Atau ada yang bilang per negara memang dijatah. Atau bisa juga memang distributornya mencoba safe dengan membeli sedikit-sedikit biar nggak stock terlalu banyak.
Efek lain D200 tampaknya harga Canon 5D mulai turun sedikit.

Kalau dipikir rasanya percepatan digital era ini memang luar biasa cepat. Dulu, ganti body camera bisa berapa tahun sekali. Bahkan ada teman yang waktu itu masih pakai Nikon F3T, padahal sudah ada Nikon F5. Dan itu tidak menjadi masalah besar. Toh hasil diukur dari lensa (dan film) yang dipergunakan. Beda F3T dan F5 yang mendasar hanya di Auto Focus-nya (F3T masih manual fokus) Di tangan yang benar, dua-duanya bisa memberi hasil yang menakjubkan.

Sekarang, beda 2 tahun saja sudah berbeda banyak. Terutama bagi Canon yang inovasinya sangat agresif. Kenyataannya, fotografer (professional) di'paksa' untuk selalu update. Kenyataan lain munculnya trend 'photo-gadgeter' yaitu fotografer yang kerjanya membahas/membandingkan/membeli gear-gear yang terbaru.

Body Hasselblad yang saya pakai tahun ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke 10. Selama hampir 10 tahun 'melayani' saya, baru satu kali rusak-- kira-kira sebulan yang lalu. Selama kurun waktu 10 tahun, body camera yang sama telah mengalami 3 kali pergantian partner (back). Dari film back A12, ke PhaseOne H5 lalu ke PhaseOne H20. Bukan tidak mungkin sampai 5-10 tahun mendatang body yang sama masih akan terus bekerja, sementara digital back yang harganya 'selangit' itu dalam 1-2 tahun akan kehilangan karismanya.

Sunday, December 11, 2005

New Back from PhaseOne, do we need them?

3 hari yang lalu saya datang ke launching digital back PhaseOne. Tidak tanggung-tanggung 3 buah back diluncurkan hari itu, walau masuk ke pasaran tidak terlalu berbarengan, kalau tidak salah.

PhaseOne P45: 39 MP
P30: 31 MP
P21: 18 MP

Masih nggak habis pikir kok di akhir tahun 2005 teknologi sudah sampai ke 39MP!
Tidak ada yang salah, memang. Bahkan ada tulisan di internet yang menyebutkan sebetulnya sampai 100MP pun sudah bisa. Tapi harganya pasti nggak kebayang. (Harga P45 saja sudah malas bayanginnya :) ) Soalnya, pembuatan sensor CCD itu sulit sekali tidak semua sensor dalam satu lembar disk bisa berfungsi ok semua.

Back to Phase One new back.
Sebagai fotografer professional teknologi kadang harus diikuti, minimal diketahui. Terlebih jika client sampai ada yang request 39MP! Hanya saja pembelian digital back tidak hanya sebatas ngumpulin uang beli digital back tersebut.
Ada hal-hal extra yang harus diperhatikan.
- HARDWARE: Hi end digi back perlu hardware yang seimbang. Memory RAM minimal 2GB dan processor yang setinggi mungkin. Then, storage. Harus punya harddisk yang gila-gilaan gedenya (maaf kalau jadi hiperbola, tapi memang kurang lebih demikian). Saya ingat ketika upgrade dari PhaseOne H5 (6MP) ke H25 (22MP), belanja DVD kosong meningkat drastis. Dan external HD meningkat sekitar 700GB. Kebayang kalau harus upgrade ke 39MP.
- TIME: File yang besar, mau gak mau waktu proses dan post processingnya juga meningkat.
- HARGA JUAL: apakah harga jual kita ke client bisa ditingkatkan sebanding dengan investasi yang cukup besar ini.

Biarpun ketiga digi back tersebut cukup menggiurkan. Biarlah waktu yang menentukan apakah kita sudah perlu atau belum.

Saturday, December 03, 2005

Living in the DX world, r u happy?

My fellow nikonians, sudah 6 tahun berlalu sejak Nikon meluncurkan Nikon D1 (2.6MP Juni 1999). Percepatan teknologi di dunia DSLR terasa begitu menarik bagi para fotografer. Saingan terberat Nikon, walau baru belakangan mengeluarkan kamera DSLR (Canon D30, 3.1MP Mei 2000) ternyata sudah beberapa tahun ini menikmati teknologi Full Frame sensor. Sejak September 2002, Canon merilis Canon 1Ds 11MP yang full frame. Sejak itu pula banyak Nikonians yang gelisah menunggu DSLR Nikon yang full frame.

Rasanya sebuah penantian yang sia-sia, karena sampai saat ini Nikon masih setia dengan komitmennya dengan DX system.
Masalahnya, ada apa dengan DX system? What's wrong with that? Sebagaimana umumnya, sebuah sistem tentu ada plus minusnya. Tentunya kalau plusnya jauh lebih banyak, berarti sistem tersebut bisa dibilang sukses.

Sebagai catatan, saat ini DSLR Nikon yang beredar di pasaran semuanya seragam memakai DX format alias FOV1.5; Nikon D100, D70s, D2Hs, D2X. Adapun DSLR Canon memiliki FOV yang bervariasi ada yang FOV1.6 ( Canon D60,10D,20D,350D) FOV1.3 (Canon 1D, 1Dmkii dan 1Dmkii N) dan FOV1.0 alias Full Frame (Canon 1Ds, 1Dsmkii dan 5D)

Kita mulai dengan kelemahan utama sistem DX.
Wide Angle; Lensa wide 28mm akan terekam sebagaimana 42mm di FF. Lensa ultra wide 20mm pun jadi 30mm. Tentunya 42mm dan 30mm itu bukan berarti lensanya menjadi lebih panjang. Hal ini yang membingungkan fotografer yang baru switch ke Digital.
Untuk itu dikenal istilah FOV alias Field of View. Jadi FOV 1.5 berarti lensa berapapun panjangnya akan dikalikan faktor 1.5; misalnya lensa standar 50mm akan jadi 75mm. Jadi bidang yang terekam oleh sensor kamera lebih kecil dari luas lensa itu sendiri. Karena hal itu banyak fotografer yang biasa bermain dengan wide angle tidak menyukai hal ini.

Apa yang dilakukan Nikon untuk mengatasi hal ini? 3 buah lensa DX yang berkualitas tinggi: Nikkor AF 10.5mm/2.8 DX(fish eye), Nikkor AF-S 12-24/4 DX dan Nikkor AF-S 17-55/2.8 DX. Semuanya lensa yang outstanding, IMHO. Kalau boleh saran, paling saya berharap AF-S 12-24 bisa dibuatkan versi f2.8 nya.

Kelemahan lainnya; secara teoritis format DX berarti sensor yang lebih kecil dari sensor full frame. Berarti untuk menaikkan jumlah pixel ke dalam sensor DX (10MP ke atas) maka pixel-pixel tersebut akan lebih kecil ukurannya dan logikanya akan menaikkan noise. Bisa dilihat dari ISO D2x yang hanya 100-800. Iso 1600 ada tapi dengan nama HI-1, ISO3200 HI-2

Nah apa keuntungan yang terutama dari sistem DX?
HARGA.
Sensor yang lebih kecil, harga jauh lebih murah. Ini menjadi tujuan utama Nikon, menjual kamera yang bisa dibeli cukup banyak orang.

KUALITAS.
Tentunya distorsi di bagian tepi luar sensor menjadi tidak ada. Ataupun vignetting yang bisa terjadi di FF sensor.
Ingat, biar sensor kecil tapi "Not every pixel created the same". Jadi kualitas pixel itu sendiri yang penting.

TELE.
Buat yang senang tele. dengan lensa 70-200/2.8 bisa menghasilkan efek 105-300 f2.8! (FOV1.5) Walau hal ini masih banyak jadi perdebatan tapi motret sports, concert, wildlife terasa lebih menyenangkan dengan DX system.

DX lens.
Kualitas DX lens yang diatas rata-rata. 17-55/2.8 DX langsung jadi lensa favorit saya.

Jadi, kembali ke judul di atas...
Are you happy?
Tiap orang bisa punya pendapat masing-masing dan itu sah-sah saja.

I'm happy, especially when D2X arrived. I'm not against FF, but DX world is surely give me good system with good price.
D2X at half price of 1Ds II, is a good thing for me.
Terlebih jika ingat pepatah fotografi; Camera is Only Tools :)

Thursday, December 01, 2005

Penantian D200

Sebetulnya, bukan saya yang sedang menunggu kehadiran D200. Tapi banyak teman yang sedang sedang terkena NAS D200(Nikon Acquisition Syndrome) sehingga saya jadi tertarik untuk menulis tentang hal ini.

Pertama, NAS adalah 'penyakit' yang umum terjadi pada fotografer, khususnya Nikonian. (Kalau Canonian maka mungkin singkatannya jadi CAS) Jadi NAS itu membuat para Nikonian begitu gregetan untuk meng-upgrade camera atau lensa --walau sebetulnya upgrade tersebut belum betul-betul dibutuhkan. Begitu yang terjadi ketika D2X muncul. Banyak teman khususnya Nikonians di seluruh dunia, yang terkena NAS akan DSLR tercanggih Nikon tersebut. Di Indonesia, rasanya walau NAS menyerang tapi harga D2X yang masih di kisaran 40juta rupiah cukup untuk membuat penyakit NAS sembuh dengan sendirinya :)

Contoh lain dari NAS adalah ketika Anda ke toko camera untuk membeli Nikkor AF50/1.8 dan akhirnya keluar dari toko membawa Nikkor AF50/1.8. NAS yang pernah saya alami adalah ketika Nikkor AF 70-200/2.8 VR muncul. Walau sudah memiliki Nikkor AF 80-200/2.8, rasanya lensa tersebut langsung kurang sip. I'll end up buying the 70-200VR lens!

Namun saat ini Nikon D200 memang sedang jadi perbincangan yang hangat. Selain faktor penantian pengganti Nikon D100, harganya yang separuh Canon 5D (Kamera yang sedang hot-hotnya saat ini) menyebabkan D200 memang layak ditunggu.
Yang paling menunggu umumnya pemakai Nikon D100 atau D70. Secara logika, Nikon D100 memang sudah uzur. Dirilis tahun 2002, maka 3 tahun adalah waktu yang lama untuk upgrade cycle sebuah DSLR. Bandingkan dengan Canon yang upgrade cycle DSLRnya jauh lebih singkat. Memang, tahun 2004 --itupun 2tahun setelah D100 rilis-- muncul D70. Tapi dengan spec utama 6MP, maka tidak terasa ada lompatan yang berarti. Belum lagi body D70 yang lebih 'ringkih' dibanding body D100.
Kehadiran D70s di tahun 2005, juga cuma menjadi hal yang biasa karena umumnya para fotografer professional atau amatir maunya kamera dengan sensor >10MP. Megapixel menjadi ukuran utama, padahal menurut saya tidak juga. Saya akan bahas hal ini di tulisan lain saja.

D200 muncul dengan specs:
- 10.2 MP ; sesuai keinginan para fotografer umumnya
- CCD sensor ; buat old school fotografer seperti saya, masih ada belief CCD lebih bagus dari CMOS. (IT IS!!!)
- 11-area Multi-CAM AF system with new 7 Wide-area AF ; feature yang tidak ada di D100/D70
- Fast 5 fps continuous shooting ; 5 frames per second cukuplah untuk average fotografer
- 50ms shutter lag : masih kalah dengan lag D2H/X yang 37ms, tapi sesuai dengan harganya, dibawah separuh harga D2X
- 2.5" LCD with ultra-wide viewing angle ; biar puas melihat preview hasil jepretan Anda
- Shoot up to 1800 images on a single EN-EL3e battery charge; Nikon sesudah D1X era, rata-rata batterenya irit.
masih banyak lagi tapi rasanya yang saya sebut di atas adalah highlight yang menarik untuk diketahui. Bocoran harganya di US sekitar 1700 US Dollar, yang kemungkinan tidak jauh berbeda, atau bisa lebih murah di Indonesia.

Pertanyaannya apakah dengan spec yang begitu aduhai, kita harus/sebaiknya upgrade? Buat saya, membeli kamera, lensa atau accesories lainnya bisa saya bagi dua: WANTS or NEEDS. Ingin atau butuh. Kalau INGIN, pastinya semua kamera atau lensa terbaru ingin kita beli. Tapi kalau ditanya, betul-betul BUTUH nggak? Pasti jawabnya harus berpikir dulu.

Tulisan ini saya buat khususnya buat teman-teman saya yang bukan profesional fotografer, tetapi saya tahu mereka sangat menyukai fotografi dan tidak sedikit yang menghasilkan karya-karya yang sangat menarik. Secara umum D100 atau D70/s adalah good DSLR, in my humble opinion. Dan kamera tersebut akan terus menghasilkan karya yang sama bagusnya dengan yang biasa Anda hasilkan. Tidak ada salahnya Anda melihat kembali koleksi lensa Anda. Mempunyai lensa pro, jauh lebih penting ketimbang MegaPixel yang lebih besar. Meng-upgrade ke D200 tidak berarti skill Anda naik. Namun tidak berarti saya tidak mendukung Anda membeli D200.

3 tahun 'penantian' pengganti D100 memang sangat menarik. Karena karakteristik Nikon yang begitu conservative, jarak antar satu DSLR dengan penerusnya cenderung cukup lama. Menunjukkan produk Nikon yang cukup kuat bertahan. Sejarahnya, Nikon D1 dirilis September 1999 --pertama dibanding Canon yang kemudian merilis Canon 30D-- baru diganti oleh Nikon D1H dan D1X pada bulan Februari 2001. Juli 2003, 2 tahun lebih barulah muncul Nikon D2H. Nikon D2X yang seharusnya muncul sebagai tandem D2H baru muncul setelah 'penantian panjang 3 tahun 7 bulan' pada bulan September 2004. Itupun baru pada awal tahun 2005 D2X benar-benar ada di pasaran.
Melihat karakter Nikon selama ini saya yakin Nikon D200 bisa menjadi DSLR fave bagi banyak orang, terlebih dengan harga yang sangat menarik. Selamat menabung!

Monday, November 28, 2005

Nikon vs Canon, Perseteruan yang (semoga) abadi

Era digital photography ternyata datang begitu cepat. Dan yang menarik buat saya, ternyata saya bisa hidup tanpa film sejak 4 tahun belakangan ini. Dalam era digital ini saya melihat dan merasakan hal-hal baru dalam dunia fotografi. Percepatan teknologi sungguh sangat berbeda dengan iklim fotografi jaman Film 'dulu'. Dalam dunia film, persaingan antara kamera rasanya tidak terasa. Walau Nikon F5 sudah sangat sophisticated, bukan tidak mungkin hasilnya disamai oleh Nikon FM2 yang full manual. Fotografer bermain warna antara lain dengan pemilihan film yang beraneka ragam, berbagai merk. Persaingan antar merk pun rasanya tidak terlalu kental seperti saat ini.

Sebetulnya banyak hal yang menarik dari digitalisasi dunia fotografi. Diantaranya, semakin banyak fotografer yang bermunculan. Memotret ternyata gampang, hasilnya bisa langsung dilihat di monitor LCD. Sayangnya banyak yang akhirnya tidak fokus ke fotografi, tetapi ikut arus yang dimainkan oleh marketing masing-masing brand.

Dalam persaingan Nikon dan Canon di Indonesia, akhirnya memunculkan brand war di kalangan user. Bahkan dalam suatu komunitas fotografi, Nikon atau Canon biasa disebut sebagai 'agama'. Yang Canonian akan ngotot bahwa Canon is the best, sementara Nikonian akan fanatik dengan brandnya.

Yang terjadi saat ini, khususnya dalam dunia DSLR (Digital SLR) dalam rentang 6 bulan sampai setahun bisa muncul kamera baru. DSLR pun sudah ada yang harganya dibawah 10 juta rupiah. Nikon dari 2,74MP sampai sekarang sudah mencapai 12,4MP (Nikon D2X) Bahkan Canon sudah mencapai 16,7MP (Canon 1Ds mkII). Dan banyak (termasuk saya) yang selalu saja tergiur untuk upgrade setiap ada jenis kamera yang baru diluncurkan.

Satu hal yang perlu diingat, meng-upgrade camera dengan teknologi terbaru tidak berarti hasil karya Anda akan langsung lebih baik. Camera is only tools.

Saya tidak ingin panjang lebar soal Nikon vs Canon (Ini hal yang sangat sensitif, sometimes)
Buat saya Nikon dan Canon tidak lebih dari analogi BMW dan Mercedes. Walau saat ini Canon (kelihatannya) unggul. Keunggulan itu tidak akan berlaku selamanya. Selalu akan ada leapfrog dari masing-masing brand. Dan ini bagus. Bayangkan kalau Canon (atau Nikon) unggul tanpa saingan berarti. Tentunya tantangan untuk menghasilkan yang lebih baik (dan lebih murah) akan sangat berkurang.

Jadi, biarkanlah Nikon vs Canon menjadi perseteruan yang abadi, dan konsumen yang menjadi pemenangnya.